Kemenangan Jokowi Sampai Diberitakan The New York Times

Posmetro.net – Dunia – Hasil penetapan rekapitulasi suara Pilpres 2019 yang diumumkan oleh KPU menjadi penanda kemenangan Jokowi – Ma’aruf Amin yang meraih 85.607.362 atau 55.50% dari total suara sah nasional. Sedangkan pasangan nomor urut 2 Prabowo – Sandiaga dengan 68.650.239 atau 44.50%.

Kemenangan Jokowi – Ma’aruf mendapatkan sorotan dari Harian terbesar di Amerika Serikat, The New York Times yang menuliskan berita tentang kemenangan Presiden Joko Widodo dalam Pilpres 2019.

“Jokowi meraup 55.5% suara jauh melampaui Prabowo Subianto, mantan Jendral yang simpatisannya merupakan kelompok Islamis garis keras dan menimbulkan kekhawatiran di negara dengan jumlah muslim terbesar di dunia. Hasil ini diumumkan lebih dari sebulan setelah pencoblosan pada 17 April”, tulis The New York Times.

Pada surat berita tersebut juga disebutkan bahwa Jokowi bukanlah seorang tokoh yang memiliki pidato dengan visi yang besar dan retorika yang baik. Pidato Jokowi lebih mengutamakan pada statistika pembangunan jalan ataupun pembiayaan desa (realistis). Sosok yang suka menggunakan kemeja putih polos dan celana hitam tersebut memiliki nada bicara yang lembut berhasil terpilih untuk masa jabatan kedua dan terakhir sebagai presiden dari negara terpadat keempat di dunia. Terpilihnya Jokowi juga sebagai penyeimbang yang kuat terhadap pelemahan demokrasi dan politik orang kuat yang baru baru ini mendominasi lanskap pemilihan global.

Kemenangan Jokowi sampai Diberitakan The New York TimesBahkan pada surat kabar ternama di Amerika tersebut secara gamblang menuliskan faktor dan alasan Jokowi berhasil meraih kemenangan atas pasangan nomor urut 2 Prabowo Subianto.

“Prabowo yang pernah menjadi menantu Suharto, Presiden yang dituduh korupsi miliaran dollar selama berkuasa lebih dari 30 tahun. Sedangkan Jokowi merupakan seorang eksportir mabel yang bukan berasal dari militer ataupun tokoh politik”.

“Strategi saya adalah mengelola negara sebagai negara, bukan sebagai lahan bisnis” sebut Jokowi. “Dampak dari program program – kesehatan, pendidikan, dan infrakstruktur akan terasa saat saya tidak menjadi presiden lagi. Tetapi, kita tidak dapat menghitung pengembalian jangka pendek jika ini menyangkut kepentingan nasional jangka panjang.”

Diakhir pemberitaan tersebut, disebutkan alasan memilih Ma’aruf sebagai wakilnya. “Pada tahun 2017, seorang mantan anak didik politiknya dipenjara dituduh oleh aktivis HAM sebagai tuduhan penistaan agama. Ditengah pengerasan Islam global. Jokowi memilih seorang ulama konservatif sebagai calon wakilnya bulan lalu. Untuk menunjukan komitmennya terhadap keyakinan moderat yang dapat merusak kabinetnya sendiri.