Tegas Tanpa Ampun! Pencetak dan Pengedar Uang Palsu Berisiko di Pidana 20 Tahun Penjara

Tegas Tanpa Ampun! Pencetak dan Pengedar Uang Palsu Berisiko di Pidana 20 Tahun Penjara

Posmetro.netPosmetro Terkini, Saat ini aturan hukum yang ada di Indonesia tampakny semakin tegas, bila sebelummnya Presiden Jokowi sempat menegaskan aturan hukuman tembak mati bagi para mengedar Narkoba yang melakukan perlawanan. makan kini pemerintah telah membuat aturan hukum baru bagi di bidang ekonomi Indonesia, tepatnya itu terkait atas uang palsu yang beredar.

Kali ini tanpa tanggung-tanggung para pencetak serta pengedar uang palsu yang dengan sengaja memperkaya dan merugikan orang lain akan dijerat hukuman penjara maksimal 20 tahun. Tentunya para pencetak dan pengedar uang palsu merupakan tindakan yang tidak terpuji dan telah sanagt menyalahi aturan hukuman yang ada. Hal semacam ini dianggap salah karena telah banyak merugikan masayarakat dan juga negara.

Melalui pemberitaan yang diinformasikan oleh Direktur Tipideksus, Brigjen Pol. Agung Setya mengungkapkan dirinya menegaskan bila hal ini merupakan jalur pilihan yang salah dalam membuat serta mengedarkan uang palsu karena ancaman hukuman yang akan dikenakan juga tidak tanggung-tanggung yaitu pidana hingga 20 tahun penjara. hal tersebut diumumkan sewaktu konferensi pers

“Saya tegaskan ini pilihan yang salah untuk membuat uang palsu karena ancaman hukumannya bisa sampai 20 tahun. Terakhir ada yang sempat diputuskan 15 tahun, disini saya berharap enggak ada lagi yang ikut menyusul,” ungkap Direktur Tipideksus, Brigjen Pol. Agung Setya dalam konferensi pers di Gedung C BI, Jakarta Pusat, Rabu (26/7/2017).

Agung sendiri juga menambahkan, bila pelaku dalam kegiatan membuat uang palsu dengan beberapa peralatan sederahana yang mudah didapatkan. Adapun beberapa peralatan tersebut diantara lain seperti mesin sablon dan komputer.

“Kita juga mendeteksi dan menemukan ada peralatan sederhana seperti misalnya sablon dan juga komputer,” ungkap Agung.

Namun pihaknya sendiri menegaskan bahwa masyarakat saat ini sudah semakin pintar didalam membedakan rupiah asli dan rupiah palsu. Pasalnya, bila dibandingkan ada perbedaan yang mencolok dan kasat mata antara rupiah asli dan rupiah palsu dengan metode 3D, dilihat, diraba, diterawang.

Selama 3 tahun terakhir, pihaknya telah menemukan ada 246 kasus uang palsu dengan jumlah tersangka mencapai hingga 574. Adapun kejahatan dari uang palsu umumnya melibatkan banyak orang.

Saat ini masyarakat dihimbau untuk selalu berhati-hati dalam bertransaksi menggunakan uang tunai, kemudian perlu adanya pengenalan terhadap keaslian rupiah lewat metode 3D tersebut, dan jika menemukan uang rupiah yang diragukan keasliannya dapat juga meminta klarifikasi kepada BI dan setelah itu dapat juga dilaporkan kepada aparat penegak hukum.

You may also like...