Penyalahgunaan Mesin Pencarian, Uni Eropa Denda Google Hingga Rp 36 Triliun

Penyalahgunaan Mesin Pencarian, Uni Eropa Denda Google Hingga Rp 36 Triliun

Posmetro.netPosmetro Lifestyle, Kali ini pihak Uni Eropa (UE) akan melakukan pendendaan kepada Google karena dinilai telah melakukan monopoli pasar dengan menyalahgunakan posisinya sebagai raksasa mesin pencaharian. Adapun Total denda kepada Google adalah sebesar 2,7 Miliar atau setara dengan Rp 36 Triliun.

Hingga saat ini pihak bagian Eropa telah memberikan waktu tenggat kepada Google sampai 90 hari kedepan untuk segera menghentikan aktivitas ilegalnya atau wajib membayar denda hingga 5% dari rata-rata perputaran harian pendapatan perusahaan induk mereka, Alphabet yang ada di seluruh dunia.

“Sebenarnya apa yang telah dilakukan oleh Google sudah melanggar aturan antimonopoli. Google melanggar hak perusahaan lain untuk dapat berkompetisi secara sehat dan berinovasi, serta membuat pihak konsumen Eropa tidak bisa memilih layanan apa yang mereka inginkan dan juga merasakan manfaat dari inovasi,” ungkap Margrethe Vestager selaku European Competition Commissioner, pada Rabu (28/06/2017).

Untuk denda senilai 2,7 miliar Euro merupakan denda tertinggi yang pernah diberikan oleh UE. Sebelumnya itu nilai tertinggi yang pernah diberikan oleh UE adalah ketika mereka mendenda Intel senilai 1,06 miliar Euro pada tahun 2009 atas tuduhan yang sama juga, yaitu melanggar aturan antimonopoli.

Atas hal tersebut UE selama ini melakukan penyelidikan selama 7 tahun lamanya hingga akhirnya menjatuhkan keputusan tersebut. Pada bulan Juli tahun lalu, UE menyatakan bahwa perusahaan yang dipimpin oleh Sundar Pichai telah memanipulasi hasil dari mesin pencarian untuk mendukung yang namanya layanan Google Shopping, serta menawarkan perbandingan harga pada produk yang ada.

“Google sendiri sebenarnya telah menghasilkan banyak produk serta layanan inovatif yang mengubah hidup setiap orang menjadi lebih baik dan semuanya itu memang bagus. Akan tetapi apa yang telah diperbuat Google dengan menyalahgunakan dominasi tersebut dianggap tidak tepat karena sebagai mesin pencarian yang memonopoli pasar dengan cara mempromosikan layanannya sendiri dan menjatuhkan para pesaing mereka secara tidak langsung,” ungkap Margretge.

Menjawab tudingan tersebut, Google kini menyangkal pendapat tersebut dan mengatakan bahwa iklan yang ditayangkannya selama ini justru bertujuan dalam mempermudah pihak konsumen dalam menemukan layanan yang mereka inginkan.

You may also like...