Tanggapan Warga Pulau Pramuka Terkait Kasus Dugaan Penistaan Agama oleh Ahok

Tanggapan Warga Pulau Pramuka Terkait Kasus Dugaan Penistaan Agama oleh Ahok

Posmetro.netPosmetro Terkini, Jakarta – Pulau Pramuka di Kepulauan Seribu merupakan lokasi tempat terjadinya dugaan penistaan agama oleh Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama atau Ahok.

Di pulau inilah, Ahok pernah mengutip isi salah satu ayat dalam kitab suci Al-Qur’an yang kemudian membawanya dalam proses peradilan.

Dialog Ahok dilontarkan ketika cara peresmian panen pertama budidaya kerapu di Kantor Suku Dinas Kelautan dan Pertanian Kabupaten Kepulauan Seribu, Pulau Pramuka, 27 September 2016.

Saadah (27) merupakan salah satu warga yang hadir dalam acara itu. Sebagai orang yang menyaksikan langsung Ahok berdialog, Saadah menganggap tidak ada satupun perkataan Ahok yang menyinggung, apalagi menistakan agama Islam.

Kepada posmetro.net, Minggu (8/1/2017), dia menceritakan dari sejak awal mula kehadiran Ahok di lokasi itu.

Menurut Saadah, ketika tiba di lokasi acara, Ahok mengklaim seperti tengah merasa berada di Belitung, kampung halamannya. Hal itulah yang kemudian membuatnya salah untuk memanggil jabatan Lurah Pulau Pramuka dengan sebutan ‘Pak Kades’.

“Mulanya dia datang. Ada Pak Lurah nih, tapi bukan Pak Lurah dia memanggilnya, ‘selamat pagi Pak Kades. Eh, kelupaan.. saya bukan lagi di Belitung’. Sama aparatnya, ‘Pak, ini kan bukannya di Belitung, ini kan di Pulau Seribu’. (Ahok menjawab) ‘Oh iya, Pak Lurah maaf iya’. Habis itu dia naik tuh ke lokasinya mau dialog,”terang Saadah.

Selama menyampaikan sambuatannya, Saadah menyebut Ahok banyak menceritakan pengalamannya ketika meniti karir politik di Belitung. Sampai akhirnya Ahok berharap supaya kejadian yang sama tidak terjadi lagi kepadanya di DKI Jakarta.

“Ucap dia, ‘ntar bapak dan ibu jangan seperti di sana. Dibohong-bohongin, orang kafir enggak bisa menjadi pemimpin’. Hanya begitu doang,”ucap wanita yang bekerja sebagai pedagang nasi ini.

Seperti Saadah, Ketua Masjid Jami Al Makmuriah, Faturaahman (70), diketahui juga turut hadir dalam acara itu. Dia menganggap tidak ada yang patut dipermasalahkan dari perkataan Ahok.

Sebab itu, dia dan warga Pulau Pramuka lainnya merasa heran kenapa kasusnya itu saat ini menimbulkan kontroversi yang besar.

“Lagian Pak Ahok sering membantu nelayan-nelayan. Ya gimana kita mau memusuhi. Kalau masalah agama, kita kan negara Pancasila. Ya, enggak bisa musuhin agama lain,”ucap pria yang telah menetap di Pulau Pramuka sejak 1970 ini.

( Posmetro.net )

You may also like...